Mata Minus, Masalah Atau Bukan
Mata-Minus-Masalah-Atau-Bukan.jpg

Bila anak anda harus memakai kacamata minus, apakah anda merasa khawatir? Mungkin sebagian akan menjawab tidak dan menganggap mata minus sudah umum terjadi. Paling-paling ketika kacamata mengganggu aktivitas anak, si anak akan memakai lensa kacamata. Atau bila memungkinkan, masih ada teknologi laser. Apakah pendapat ini benar atau salah? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita mengenal  lebih dalam tentang mata minus.

Kesepakatan pertama adalah mata minus berarti mata dalam kondisi tidak normal. Tanpa alat bantu, orang tersebut harus melihat dengan usaha lebih dari normal. Bila tidak demikian, objek menjadi kurang jelas. Dari hal ini saja kita sudah mulai menemukan masalah bukan? Apa yang sesungguhnya terjadi pada mata minus?

Dari gambar di atas terlihat objek yang seharusnya jatuh tepat pada retina, ternyata tidak mencapai retina dan jatuh di depannya. Ini akan menghasilkan gambar buram bagi penderita. Kondisi inilah yang disebut miopia atau kita kenal dengan mata minus atau rabun jauh. Mata akan mengkompensasi keadaan ini sedemikian rupa sehingga objek dapat jatuh di retina supaya terlihat jelas. Ini yang dimaksud dengan mata bekerja lebih dari normal.

Mata minus pada umumnya bersifat progresif, penglihatan semakin terbatas dengan bertambahnya waktu. Ketika masih terkompensasi seolah-olah semuanya baik-baik saja. Itu sebabnya sering tidak disadari baik oleh penderita maupun orang di sekitarnya. Penderita masih dapat melihat objek dengan jelas. Gejala awal mungkin hanya keluhan mata lebih cepat lelah atau mengantuk. Pada saat ini mata akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas. Bila pada tahap ini orang tua belum menyadari perubahan pada anaknya, kemungkinan akan terlewati hingga derajat minus bertambah dan baru disadari ketika anak semakin malas mengerjakan tugas sekolah, mengeluh capek, prestasi menurun. Gejala lebih lanjut dapat berupa sakit kepala, objek semakin kabur, pada orang tertentu menimbulkan vertigo. Memicingkan mata atau mengernyit adalah ekspresi yang sering terlihat. Hingga akhirnya keluhan pandangan kabur semakin nyata.

Ketika akhirnya anak harus memakai alat bantu seperti kacamata, tentunya ada banyak keterbatasan fisik akan timbul. Ini akan menjadi masalah tersendiri. Kondisi ini akan terus bertambah dan ketergantungan terhadap kacamata akan semakin tinggi.

Tahukah anda pada tahun 2020 diperkirakan sepertiga penduduk dunia akan menderita miopia? Menjadi tugas kita semua untuk menekan angka ini. Tidak hanya karena alasan keterbatasan fisik yang ditimbulkan, tapi komplikasi yang mungkin belum disadari. Ada 2 predikat menakutkan yang disandang oleh miopia, yaitu penyebab utama kerusakan sistem penglihatan (42%) dan penyebab kebutaan (3%).

Tepat bila dikatakan mata minus adalah masalah besar bagi kesehatan mata. Bila setiap keluarga memiliki 3 orang anak, kemungkinan 1 dari anaknya akan mengidap miopia. Keluarga harus mendukung anak ini untuk mencegah minusnya bertambah menjadi minus berat dan berisiko mendapatkan berbagai komplikasi hingga pada kebutaan. Mungkinkah ini dilakukan?

Di luar usaha dunia kedokteran mata untuk mencegah progresivitas miopia, sebagian besar usaha berada di tangan penderita sendiri. Membatasi kerja mata, menciptakan kondisi yang nyaman untuk mata ketika bekerja, melindungi mata dari cahaya yang berlebihan dan paparan sinar uv, memperbanyak aktivitas luar rumah dan memberikan nutrisi yang diperlukan oleh mata, baik dari makanan sehari-hari maupun penambahan suplemen yang menjamin kecukupan nutrisi tesebut, yaitu vitamin A, C, selenium, zink, lutein, zeaxanthin dan bilberry.

Vitamin Mata Eyevit mengandung bilberry, lutein, dan zeaxanthin untuk menjaga kesehatan mata dan mengobati mata minus
Copyright 2019 @ Eyevit
Disclaimer